Sunday, September 7, 2008

Adab-Adab Berpuasa

Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Dianjurkan bagi orang yang akan melaksanakan ibadah puasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini :

a. Sahur
Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah ; karena di dalam santap sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 139 no:139 no:1923, Muslim II : 770 no:1095, Tirmidzi II: 106 no: 703, Nasa’i IV:141 dan Ibnu Majah I: 540 no:1690).

Sahur, dianggap sudah terealisir, walaupun, berdasar hadits dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah, walaupun sekedar setegukan. “(Shahi: Sahihul Jami’us no:2945 dan Sahih Ibnu Hibban VIII : 224 no:884).

Dianjurkan mengakhirkan santap sahur, sebagaimana ditegaskan dalam hadits, dari Anas dari Zaid bin Babit r.a. ia berkata: Kami pernah bersantap sahur bersama Nabi saw. , kemudian beliau mengerjakan shalat, lalu aku bertanya (kepada Beliau), “Berapa lama antara waktu adzan dengan waktu sahur?” Jawab Beliau, “Sekedar membaca lima puluh ayat. “(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 138 no 1921, Muslim II : 771 no:1097, Tirmidzi II: 104 no: 699, Nasa’i IV: 143 dan Ibnu Majah I:540 no:1694).

Apabila kita mendengar suara adzan, sementara makanan atau minuman berada di tangan, maka makanlah atau minumlah. Ini mengacu pada hadits, dari Abu Hurairah r.a. bawah Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang diantara kamu mendengar suara adzan (shubuh), sedangkan bejana berada ditangannya, maka janganlah ia meletakkannya (lagi) hingga ia memenuhi kebutuhannya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 607,’Aunul Ma’bud VI:475 no:2333, Mustadrak Hakim I :426).

b. Menahan diri agar tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, perkataan kotor dan semisalnya yang termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ma’na puasa
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang diantara kamu bepuasa, maka janganlah mengeluarkan perkataan kotor, jangan berteriak-teriak dan jangan pula melakukan perbuatan jahiliyah; jika ia dicela atau disakiti oleh orang lain, maka katakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa,” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:118 no:1904, Muslim II:807 no:163 dan 1151, dan Nasa’i IV:163).

Dari (Abu Hurairah) r.a. bawah Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan pelaksananya, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih: Mukhtashar Bukhari no:921), Fathul Bari IV:116 no:1903, ‘Aunul Ma’bud VI: 488 no:2345, Tirmidzi II:105 no:702).

c. Rajin melaksanakan berbagai kebajikan dan tadarus al-Qur’an
Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, “Adalah Nabi saw. orang yang paling dermawan dalam hal kebajikan, lebih dermawan lagi manakal Beliau berada dalam bulan Ramadhan ketika bertemu dengan (malaikat) Jibril. (Malaikat Jibril’alaihisalam bertemu dengan beliau setiap malam pada bulan Ramadhan sampai akhir bulan, Nabi saw. membaca al-Qur’an di hadapannya. Maka apabila Beliau bertemu dengan (Jibril) beliau menjadi orang yang lebih dermawan dalam hal kebaikan daripada angin kencang yang dikirim.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:30 no:6, dan Muslim II: 1803 no: 2308).

d. Segera Berbuka
Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang (umat Islam) senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:198 no:1957, Muslim II: 771 no: 1098 dan Tirmidzi II:103 no:695).

e. Berbuka seadanya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:
Dari Anas r.a. ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat maghrib; jika tidak ada (juga), maka Beliau minum beberapa teguk air.” (Hasan Sahihi: Shahih Abu Daud no:2065, ‘Aunul Ma’bud VI:481 no:2339 dan Tirmidzi II:102 no:692).

f. Membaca do’a ketika akan berbuka sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut :
Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Adalah Rasulullah saw. apabila akan berbuka mengucapkan, DZAHABA ZHAMA-U WABTALLATIL ‘URUUKU, WA TSABATAL AJRU INSYAA-ALLAH (Telah hilang rasa haus dahaga dan telah basah urat tenggorokan, dan semoga tetaplah pahal (bagi yang berbuka) insya Allah).” (Hasan Shahih Abu Daud no:2066, ‘Aunul Ma’bud VI: 482 no:2340).

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm.399 -- 403.

alislamu.com

Hal-Hal yang Dibolehkan Bagi Orang Yang Berpuasa

Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Mandi agar dingin dan segar
Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi saw. berkata, “Sungguh saya benar-benar pernah melihat Rasulullah saw. di daerah Arj (nama sebuah desa yang memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, untuk sampai kesana diperlukan perjalanan beberapa hari dari Madinah) beliau menuangkan air diatas kepalanya padahal beliau berpuasa karena haus dahaga atau karena suhu sangat panas.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2072, dan ‘Aunul Ma’bud VI: 492 no: 2348). b. Berkumur-kumur – dan istinsyaq sekedarnya
Dari Luqaith bin Shabirah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq, kecuali bila kamu berpuasa!” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 129, dan 131, dan ‘Aunul Ma’bud I: 236 no: 142 dan 144).

c. Bekam atau canduk
Dari Ibnu Abbas r.a. ia bersabda, “Nabi saw. pernah berbekam di saat beliau berpuasa.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2079, dan ‘Aunul Ma’bud IV: 174 no: 1939, ‘Aunul Ma’bud VI:498 no:2355, Tirmidzi II: 137 no:772 dengan tambahan, “WA HUWA MUHRIM dan dia sedang berihram’).

Dan dipandang makruh bagi orang yang khawatir lemah fisiknya karena berbekam :

Dari Tsabit al-Banani, ia berkata: Anas bin Malik r.a. pernah ditanya, “Apakah kamu memandang makruh berbekam bagi orang yang sedang beribadah puasa?” Dijawab, “Tidak, kecuali kalai dikhawatirkan mengakibatkan lemahnya fisik. (Fathul Bari IV: 174 no:1940). (Hukum berbekam ini sama dengan hukum “donor darah” jika seorang penyumbang darah khawatir lemah, maka dia tidak melaksanakannya di siang hari kecuali benar-benar dalam kondisi darurat).

d. Mencium dan bermesraan dengan isteri bagi yang mampu mengendlaikan nafsunya
Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Adalah Nabi saw. sering mencium dan bermesraan (dengan isterinya) ketika berpuasa; namun (perlu diingat) beliau adalah orang yang paling kuat di antara kalian dalam mengendalikan nafsunya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:149 no:1927, Muslim II:777 no:65 dan 1106, ‘Aunul Ma’bud VII:9 no:2365 dan Tirmidzi II: 116 no: 725).

e. Memasuki waktu shubuh dalam keadaan junub
Dari Aisyah r.a. dan Ummu Salamah r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah mendapati waktu shubuh dalam keadaan junub karena selesai berhubungan dengan isterinya, kemudian Beliau mandi junub, lantas berpuasa”. (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 143 no:1926, Muslim IV: 779 no:1109, ‘Aunul Ma’bud VII:14 no:2371 dan Tirmidzi II:139 no:776).

f. Menyambung puasa sampai tiba waktu sahur
Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu menyambung puasa; barang siapa diantara kalian yang ingin menyampung puasa, maka sambunglah puasanya sampai tiba waktu sahur, “Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, namun Engkau (sendiri) mengerjakan puasa wishal?! Jawab Beliau, “Aku tidak sama seperti kalian; sesungguhnya saya tidur malam, sedangkan saya ada pemberi makan yang memberiku makan dan pemberi minum yang memberiku minum.” (Shahih : Fathul Bari IV:208 no:1967, dan ‘Aunul Ma’bud VI: 487 no:2344).

g. Membersihkan mulut dengan menggunakan siwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes, dan suntikan.

Dasar dibolehkannya beberapa hal di atas adalah kembali kepada hukum asal, bahwa segala sesuatu pada asalnya boleh. Kalau ada beberapa hal yang termaktub di atas terkategori sesuatu yang diharamkan atas orang yang berpuasa, niscaya Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskannya. Allah berfirman, “Dan tidaklah Rabbmu lupa." (Maryam:64).

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm.403 -- 405.

alislamu.com